Kamis, 27 Agustus 2009

PENGARUH LEKTIN TERHADAP PERTUMBUHAN SERANGGA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang berkaki enam. Karena itulah mereka disebut pula Hexapoda.(wikepedia, 2008). Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Dari kelas insecta tersebut, termasuk didalamnya jengkrik Gryllus assimilis (wikepedia, 2008).

Jangkrik, familia Gryllidae, adalah serangga yang berkerabat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya. Suara jangkrik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar. Ada sekitar 900 spesies jangkrik.

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Arthropoda

Kelas:

Insecta

Ordo:

Orthoptera

Subordo:

Ensifera

Superfamili:

Grylloidea

Famili:

Gryllidae
Bolívar, 1878

Pertumbuhan serangga dapat dihambat oleh aktifitas lektin seperti yang dinyatakan ryan, 1989 dalam Bahagiawati, 2005, Gen tahan hama tanaman yang berhasil diintroduksi ke tanaman sampai saat ini pada umumnya mempunyai mekanisme menghambat perkembangan hama melalui gangguan sistem pencernaan serangga. Sebagai contoh, gen yang berasal dari Bacillus thuringiensis dan gen yang berasal dari tanaman. Pada saat ini terdapat dua kelompok besar gen tanaman yang dipakai untuk merakit tanaman transgenik tahan hama, yaitu inhibitor enzim pencernaan dan lektin.

Kata lektin berasal dari Bahasa latin yaitu legere yang artinya memilih, hal ini karena spesifitasnya terhadap spesifik tipe sel darah. Lektin ini merupakan senyawa yang dapat menggumpalkan sel darah. Selain itu, lektin ini ada yang bersifat toksik pada beberapa varietas tertentu.

lektin terdapat pada Tanaman kedelai (Glicine max), dry bean (Phaseous vulgaris),lima bean (P.limatus), kacang hijau (P.aureus), white tipary bean (P. acutifolius), scarlet runner bean (P. coccineus), biji jarak (Risinus communis), jack bean (Canavalia ansiformis), kapri (Pisium sativum), kacang lapangan (Dolichos lablab), horse gram (Dolicjos biflorus), kacang lebar (Vicia faba), Lentil (Leus esculenta), kacang tanah (Arachis hypogaca), dll. (rahmawati (2007), dalam wikipedia, 2008).

Salah satu tanaman yang mengandung lektin diatas diantaranya kacang Arachis hypogaea L tanah dan jarak Ricinus caommunis.

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan atau legum kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Tiongkok dan India merupakan penghasil kacang tanah terbesar dunia.

Jarak (Ricinus communis L) berasal dari Afrika (Ethiopia), masuk ke Indonesia pada abad ke 16 bersamaan dengan masuknya bangsa Portugis. Di Indonesia tanaman ini dijumpai diberbagai tempat, baik sebagai tumbuhan liar maupun sebagai tanaman yang telah dibudidayakan. Tanaman ini dapat dibudidayakan secara ekstensif tetapi untuk memperoleh hasil yang tinggi perlu diusahakan secara intensif. Setiap daerah di Indonesia mempunyai istilah atau nama sendiri-sendiri tentang jarak. Budidaya jarak dipelopori pertama sekali oleh bangsa Portugis dan Spanyol.

1.2. Tujuan Percoaan

1. Mengetahui adanya pengaruh senyawa lektin terhadap pertumbuhan jangkrik

2. Mengetahui konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan jangkrik

1.3. Tinjauan Pustaka

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang berkaki enam. Karena itulah mereka disebut pula Hexapoda. Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi.

Lebih dari 800.000 spesies insekta sudah ditemukan. Terdapat 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera), 360.000 spesies bangsa kumbang (Coleoptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah (Hymenoptera).

Anatomi serangga betina
A- Kepala (caput) B- Dada (thorax) C- Perut (abdomen)

1. antena
2.
ocelli (bawah)
3. ocelli (atas)
4.
mata majemuk
5. otak (ganglia otak)
6. dada depan (prothorax)
7. pembuluh darah dorsal
8. saluran trakea (ruas-ruas dengan spirakulum)
9. dada tengah (mesothorax)
10. dada belakang (metathorax)
11. sayap depan

12. sayap belakang
13.
perut
14.
jantung
15.
ovarium
16. perut belakang (
usus, rektum, anus)

17. anus
18.
vagina
19. berkas
saraf (ganglia perut)
20.
saluran Malpighia
21. tungkai dada
22. cakar pengait
23. tarsus
24. tibia
25. femur
26. trochanter
27. perut depan
28. ganglion dada
29. coxa
30. kelenjar ludah
31. ganglion suboesophagus
32. mulut

Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke masa Ordovicius. Fosil kecoa dan capung raksasa primitif telah ditemukan. Sejumlah anggota Diptera seperti lalat dan nyamuk yang terperangkap pada getah juga ditemukan.

Jangkrik, familia Gryllidae, adalah serangga yang berkerabat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya. Suara jangkrik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar. Ada sekitar 900 spesies jangkrik.

Jangkrik telah dipelihara manusia sejak lama, dan di Asia dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Adu jangkrik adalah sejenis permainan judi. Di Caraguatatuba, Brazil, jangkrik hitam di dalam ruangan dipercaya sebagai tanda datangnya penyakit, jangkrik hijau harapan, dan jangkrik kelabu uang. Dalam komedi, suara jangkrik biasanya digunakan untuk menandakan lawakan yang tidak lucu dan tidak membuat orang tertawa.

Kata lektin berasal dari Bahasa latin yaitu legere yang artinya memilih, hal ini karena spesifitasnya terhadap spesifik tipe sel darah. Lektin ini merupakan senyawa yang dapat menggumpalkan sel darah. Selain itu, lektin ini ada yang bersifat toksik pada beberapa varietas tertentu.

Sifat-sifat umum Lektin Mempunyai sifat multivalensi yang menyebabkan lektin mempunyai kemampuan mengaglutinasi sel darah merah. Mampu mengikat macam gula khusus yang terdapat pada permukaan sel yang menimbulkan pengaruh stimulasi mitogenik, aglutinasi preferensial sel tumor dan pengaruh immunosuprensif Lektin yang bervalensi rendah, meskipun tidak mampu menyebabkan aglutinasi, kadang-kadang sangat toksik. Mempunyai berat molekul berkisar 100.000-150.000 dan di susun dari 4 subunit yang dapat identik atau tidak identik. Hampir semua lektin adalah Glikoprotein yang mengandung 4-10 % Karbohidrat. Namun, ada perkecualian di mana ada lektin dari lembaga gandum, jack bean dan kacang tanah yang tidak mengandung karbohidrat dan sebaliknya lektin dari beras dan kentang mengandung 25 dan 50 % karbohidrat.

Ciri-ciri

v Beberapa lektin dengan valensi rendah, meskipun tidak menyebabkan aglutinasi kadang -kadang sangat toksik.

v Memiliki berat molekul 100.000 – 150.000

v Disusun dari 4 subunit yang identik atau tidak identik

Terdapat pada:

Tanaman kedelai (Glicine max), dry bean (Phaseous vulgaris),lima bean (P. limatus), kacang hijau (P.aureus), white tipary bean (P. acutifolius), scarlet runner bean (P. coccineus), biji jarak (Risinus communis), jack bean (Canavalia ansiformis), kapri (Pisium sativum), kacang lapangan (Dolichos lablab), horse gram (Dolicjos biflorus), kacang lebar (Vicia faba), Lentil (Leus esculenta), kacang tanah (Arachis hypogaca), dll.

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan atau legum kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Tiongkok dan India merupakan penghasil kacang tanah terbesar dunia.

Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya), digoreng, atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.

Kacang tanah budidaya dibagi menjadi dua tipe: tipe tegak dan tipe menjalar. Tipe menjalar lebih disukai karena memiliki potensi hasil lebih tinggi.

Tanaman ini adalah satu di antara dua jenis tanaman budidaya (yang lainnya adalah "kacang bogor", Voandziea subterranea) yang buahnya mengalami pemasakan di bawah permukaan tanah. Jika buah yang masih muda terkena cahaya, proses pemasakan biji terganggu.

Jarak (Ricinus communis L) berasal dari Afrika (Ethiopia), masuk ke Indonesia pada abad ke 16 bersamaan dengan masuknya bangsa Portugis. Di Indonesia tanaman ini dijumpai diberbagai tempat, baik sebagai tumbuhan liar maupun sebagai tanaman yang telah dibudidayakan. Tanaman ini dapat dibudidayakan secara ekstensif tetapi untuk memperoleh hasil yang tinggi perlu diusahakan secara intensif. Setiap daerah di Indonesia mempunyai istilah atau nama sendiri-sendiri tentang jarak. Budidaya jarak dipelopori pertama sekali oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Dalam bahasa Latin jarak disebut Ricinus yang artinya serangga, karena bentuk bijinya berbintik-bintik menyerupai serangga. Bagi bangsa Indonesia tanaman jarak mempunyai kenangan pahit pada masa pendudukan tentara Jepang. Hal ini karena semua lapisan masyarakat Indonesia diharuskan menanam jarak dan hasilnya untuk kepentingan Jepang. Hasil utamanya berupa biji dari buah yang terletak di setiap ujung tanaman (cabang). Buah akan terus terbentuk selama tanaman masih mampu membentuk cabang. Pada umumnya tanaman ini mulai panen pada umur 4 bulan dan selama musim kemarau dapat panen terus dengan selang waktu sekitar dua minggu, walaupun tanpa pengairan asal curah hujan dalam tiga bulan pertama merata dan tidak kurang dari 100 mm perbulan

. METODE

2.1. Alat dan Bahan

a. Alat

ü Palu dan lumpang

ü Timbangan digital

ü Mikro pipet

ü Gelas air mineral

ü Alluminium soil

ü Mistar

b. Bahan

v Air

v Kacang tanah (Arachis hypogaea)

v Jarak (Ricinus communis)

v Jangkrik

2.2. Cara Kerja

  1. Dibersihkan 5 gelas air mineral (aqua gelas) sebagai tempat pemeliharaan jangkrik
  2. Disiapkan 5 individu jangkrik kemudian ditimbang berat badan, panjang badan dan dimasukkan tiap gelas (1-5), panjang badan diukur dari ujung kepada sampai bagian terpanjang tubuh atau ujung abdomen.
  3. Pada gelas 1 diteteskan larutan kacang tanah 0,01 % pada torak jangkrik tersebut
  4. Pada gelas 2 diteteskan larutan kacang tanah 0,02 % pada bagian torak pada jangkrik tersebut
  5. Pada gelas 3 diteteskan larutan jarak (Ricinus comunnis) 0,01 % pada bagian torak pada jangkrik tersebut
  6. Pada gelas 3 diteteskan larutan jarak (Ricinus comunnis) 0,01 % pada bagian torak pada jangkrik tersebut
  7. Pada gelas 5 tanpa ditetesi lektin
  8. Setiap 3 hari sekali diamati berat badan nya dan panjang dari jangkrik tersebut selama 2 minggu

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari praktikum yang dilakukan mendapatkan hasil

Gelas

Perlakuan

HARI KE

ΔBB

0

3

1

Arachis hypogaea 0,01 %

BB. 5,8 g

BB. 5,9 g

0,1

2

Arachis hypogaea 0,04 %

BB.5,8 g

BB. 5,8 g

0

3

Ricinus communis

0,01%

BB. 6,3 g

BB. 6,3 g

0

4

Ricinus communis

0,04 %

BB. 6,3 g

BB. 6,3 g

0

5

Kontrol

BB. 5,8 g

BB. 6 g

0,2

Ket ;

BB : Berat Badan

ΔBB : Perubahan Berat Badan

Percobaan ini tentang pengaruh lektin dari berbagai tanaman terhadap pertumbuhan serangga, serangga yang dipakai dalam praktikum ini yaitu jangkrik, dipilihnya jangkrik untuk praktikum ini karena jangkrik merupakan serangga yang mempunyai badan yang relatif besar dibandingkan serangga yang lain, disamping itu karena jangkrik mudah ditemukan di pasar. Senyawa lektin yang dipakai dalam praktikum ini menggunakan biji kacang tanah (Arachis hypogaea) dan biji jarak (Ricinus communis) hal itu dikarenakan biji kacang tanah (Arachis hypogaea) dan biji jarak (Ricinus communis) termasuk dalam kelompok papilionaceae yang mengandung lektin, seperti yang dinyatakan rahmawati (2007), lektin terdapat pada Tanaman kedelai (Glicine max), dry bean (Phaseous vulgaris),lima bean (P. limatus), kacang hijau (P.aureus), white tipary bean (P. acutifolius), scarlet runner bean (P. coccineus), biji jarak (Risinus communis), jack bean (Canavalia ansiformis), kapri (Pisium sativum), kacang lapangan (Dolichos lablab), horse gram (Dolicjos biflorus), kacang lebar (Vicia faba), Lentil (Leus esculenta), kacang tanah (Arachis hypogaca).

Biji kacang tanah dan jarak tersebut dilarutkan dalam air dan di suntikkan dalam torak jangkrik, dengan berbagai konsentrasi, sebanyak 10 mikro liter, kemudian dilihat pertumbuhan dari jangkrik tersebut selama 2 minggu, pengamatan dilakukan setiap 3 hari sekali.

Praktikum ini berjalan hanya 4 hari, hal itu dikarenakan pada hari kelima semua jangkrik mati. Kematian dari serangga percobaan tersebut karena kesalahan praktikan sendiri.

Selama 4 hari tersebut terjadi perubahan pertumbuhan pada kelima perlakuan, dimana jangkrik yang dijadikan kontrol tumbuh dengan maksimal, sedangkan jangkrik dengan perlakuan 0,01 % larutan kacang tanah tumbuh dengan pertambahan berat badan 0,1 g selama 3 hari. Pada konsentrasi 0,01 % laruatan jarak (Ricinus communis) berat badan tidak ada pertambahan. Pada perlakuan selanjutnya yaitu 0,04 % larutan kacang tanah (Arachis hypogaea) tidak ada pertumbuhan berat badan pada hari ketiga percobaan. Dan pada konsentrasi 0,04 % larutan jarak (Ricinus communis) pada hari ke3 pertumbuhan dari jangkrik tersebut tidak ada pertumbuhan sama sekali. Senyawa lektin pada kacang tanah (Arachis hypogaea) kurang efektif untuk menghambat bertumbuhan jangkrik dibandingkan dengan senyawa lektin yang terdapat pada larutan jarak (Ricinus communis).

Dari data yang diperoleh menunjukakan bahwa ada pengaruh pertumbuhan serangga akibat senyawa lektin yang terdapat pada larutan kacang tanah dan jarak, yaitu semakin tinggi konsentrasi yang digunakan pada percobaan yaitu 0,04% maka pertumbuhannya semakin minimum, sepeti Hasil penelitian Ryan (1990) dan Johnson et al. (1989), dalam Sutrisno dkk (2002), melaporkan apabila gen pinII ditransfer ke dalam kromosom tanaman dan mampu diekspresi-kan, maka serangga yang memakan bagian dari tanaman transgenic tersebut akan terganggu sistem pencernaannya, terhambat pertumbuhannya dan akhirnya mati jika level penghambatan pencernaan protein yang tinggi. Jadi untuk penghambat-an pertumbuhan larva Etiella sp., diperlukan konsentrasi pinII yang cukup tinggi agar proses pencernaan protein dalam usus serangga tersebut terganggu.

Pertumbuhan normal pada serangga mempunyai perbedaan yang nyata, seperti yang dinyatakan Aninomous (2008) Pertambahan bobot serangga yang baru keluar telur sampai menjadi dewasa biasanya sungguh nyata. Sebagai contoh, larva instar akhir Cossus cossus (Lepidoptera: Cossidae) bobotnya 72.000 x dari instar pertamanya, dan memerlukan tiga tahun untuk mencapai instar akhir itu (C. cossus adalah penggerek kayu). Pada kebanyakan yang lain biasanya sekitar 1.000 x atau lebih.

IV. KESIMPULAN

  1. Senyawa lektin yang terdapat pada larutan biji kacang tanah (Arachis hypogaea) dan jarak (Ricinus communis) mempengaruhi pertumbuhan jangkrik, dimana jangkrik yang dijadikan kontrol tumbuh dengan maksimal, sedangkan jangkrik dengan perlakuan 0,01 % larutan kacang tanah tumbuh dengan pertambahan berat badan 0,1 g. Pada konsentrasi 0,01 % laruatan jarak (Ricinus communis) berat badan tidak ada pertambahan. Pada perlakuan 0,04 % larutan kacang tanah (Arachis hypogaca) tidak ada pertumbuhan berat badan. Pada konsentrasi 0,04% larutan jarak (Ricinus communis) pertumbuhan berat badan pada jangkrik tersebut tidak ada pertumbuhan sama sekali.
  2. Senyawa lektin yang efektif pada percobaan ini, larutan jarak (Ricinus communis) pada konsentrasi 0,04%.

DAFTAR PUSTAKA

Aninomous, 2004. Ricinus Communis. http://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/images/Pdf/buku-j.kepyar.pdf.

Aninomous, 2008. Reproduksi dan Pertumbuhan. http://www.diettanpalapar.com/diet_darah_ab.php.

Meyer, John R. ; Department of Entomology, NC State University, ENT 425 http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425 , dikunjungi 1 November 2000.

Tarumingkeng, Rudy C. 2001. serangga dan liongkungan. INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Tjitrosoepomo, Gembong, 2005, Morfologi Tumbuhan, Gadjah MAda University Press, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar